Rabu, 21 November 2012

teori metode penelitian 2

A.    PROSES PENELITIAN KUANTITATIF
Sugiyono (2011) mengidentifikasikan bahwa alur proses penelitian kuantitatif yang lazim digunakan adalah seperti gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1. Langkah-langkah penelitian kuantitatif
Sumber: Sugiyono (2011), Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), Bandung: Penerbit
            Alfabeta CV, Cetakan ke -1.  

Dari gambar 2.1 tersebut, Sugiyono menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
1.      Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah atau potensi. Dalam penelitian kuantitatif, masalah itu harus sudah jelas dan ditunjukkan dengan data yang valid. Setelah masalah tersebut diidentifikasikan dan dibatasi, selanjutnya masalah itu dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya.

2.      Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjelaskan dan menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian itu.

3.      Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Hipotesis, yang masih merupakan jawaban sementara tersebut, perlu dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan.

4.      Untuk itu peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Jika peneliti bermaksud membuat generalisasi, maka sampel yang diambil harus representative dengan tingkat kesalahan tertentu.

5.      Meneliti adalah mencari data yang akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Dalam ilmu – ilmu alam, teknik, dan ilmu-ilmu empiric lainnya, instrument itu sudah tersedia seperti: thermometer, timbangan, meteran. Tetapi, dalam penelitian social, instrument itu harus dibuat dan diuji validitas serta realibilitasnya. Untuk itu, sebelum instrument digunakan maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya.

6.      Setelah instrument teruji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variable yang telah ditentukan untuk diteliti. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk tes dan non tes. Untuk instrument yang berbentuk nontes, dapat menggunakan: kuisioner, pedoman observasi, dan wawancara.

7.      Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data menggunakan statistic. Statistik yang digunakan dapat berupa statistic deskriptif dan statistic inferensial atau induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistic parametris dan statistic non parametris. Peneliti menggunakan statistic inferensial bila penelitian dilakukan pada sample yang diambil secara random.

8.      Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan: table, table distribusi frekwensi, grafik lurus, grafik batang, piechart dan pictogram. Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan yang rasional dan mendalam serta interprestasi terhadap data – data yang telah disajikan.

9.      Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, oleh karena itu maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran – saran. Melalui saran – saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.

10.  Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu dicek apakah ada yang salah dalam penggunaan teori, instrumen, pengumpulan data, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan.

A.    KONSEP DALAM PENELITIAN
Ada tiga konsep yang harus dikuasai peneliti dan calon peneliti sebelum melakukan penelitian. Konsep tersebut adalah:
1.      Peneliti harus menguasai substansi bidang yang akan diteliti.
Contoh: Jika seorang ingin meneliti tentang penyakit “diare”, berarti orang tersebut harus memahami banyak hal tentang penyakit diare. Jika tidak, maka dapat dipastikan yang bersangkutan akan banyak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi variable-variabel yang akan diteliti atau diukur.

2.      Peneliti harus menguasai metodologi penelitian. Maksudnya peneliti harus memahami metode apa yang digunakan dalam penelitiannya. Cara atau tehnik apa yang digunakan dalam penelitiannya. Siapa yang akan diteliti? Pemahaman ini dapat dipelajari dengan membaca buku – buku tentang metode penelitian.

3.      Seorang peneliti harus menguasai “teknik pengolahan data”. Ini berarti bahwa peneliti harus memahami bagaimana cara mengolah data hasil penelitian, baik data “kuantitatif” maupun data “kualitatif”. Pemahaman ini dapat dilakukan dengan membaca buku tentang “statistic” untuk penelitian “kuantitatif” dan lainnya.

Sebelum melakukan penelitian, disarankan agar peneliti melakukan “studi pendahuluan”, dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan bidang yang akan diteliti. Dengan studi pendahuluan ini  dapat diketahui apakah masalah yang timbul tersebut perlu dilanjutkan dengan penelitian apa tidak.

B.     MASALAH
Sugiyono (2011), Riyanto (2011) dan Istijanto (x) sependapat bahwa suatu penelitian dilakukan dalam rangka memecahkan suatu masalah. Emory (dalam Sugiyono,2011) bahkan mempertajam pendapat tersebut. Dia mengatakan bahwa penelitian yang dimaksud adalah “penelitian murni” dan “penelitian terapan”.
Selanjutnya perlu dipahami apa yang dimaksud dengan “masalah” dalam suatu penelitian. Untuk itu Sugiyono, Riyanto dan Istijanto sepakat bahwa masalah adalah kesenjangan (gap) antara sesuatu yang seharusnya dan apa yang benar – benar terjadi, antara teori (Standar Operasional Prosedur) dengan apa yang terjadi atau faktanya, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Atau kalau menggunakan istilah asing, masalah adalah kesenjangan antara “das sallen” dengan “das sein”.
Contoh kasus 1.
Pada Politeknik A jumlah pegawai telah disesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang baru diterima ditambah mahasiswa lama sehingga mereka diharapkan dapat melayani mahasiswa dengan baik sesuai  standar / aturan yang ada. Tetapi, di lingkungan mahasiswa masih ada klaim yang menyatakan mereka belum puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh para pegawai.
Kasus ini dapat kita rinci sebagai berikut:
Harapan (seharusnya)              : Mahasiswa  puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pegawai
                                                  Politeknik karena jumlah pegawai sudah sebanding dengan jum-
                                                  lah mahasiswa.
Kenyataannya (fakta)             : Mahasiswa Politeknik A masih protes, karena merasa belum di-
                                                  layani dengan baik.
Sehingga masalah dapat ditulis singkat sebagai berikut: “Mahasiswa Politeknik A belum puas dengan pelayanan yang diberikan oleh para pegawai lembaga pendidikan tersebut”.

Di depan disampaikan bahwa penelitian itu dilakukan karena ada masalah. Namun, Riyanto (2011) berpesan bahwa tidak semua masalah yang ditemukan harus dilakukan penelitian. Masalah yang tidak perlu diteliti (lanjutnya) adalah masalah yang sudah pasti alternative pemecahannya. Berikut ini diberikan ilustrasinya.

Contoh kasus 2.
Di ruang rawat inap pada sebuah rumah sakit X bertugas dua orang perawat yang menangani 20 orang pasien. Berdasarkan hasil survey banyak pasien yang mengeluh dan kurang puas terhadap pelayanan oleh kedua perawat tersebut. Hal seperti ini tidak perlu dilakukan penelitian, karena tanpa penelitianpun sudah dapat diduga bahwa keluhan para pasien tersebut disebabkan kekurangan tenaga perawat.

Sebagai pendalaman dari pendapat tentang masalah yang tersebut diatas, Istijanto (2010) memperingatkan, bahwa kita harus berhati-hati dalam menentukan “masalah”. Akibat ketidakte-patan penentuan masalah (lanjutnya) akan berakibat fatal, yaitu:
1.      Penentuan desain penelitian yang tidak tepat.
2.      Pengambilan sampel yang salah.
3.      Pengumpulan data yang tidak relevan.
4.      Akhirnya, berdampak pada hasil penelitian yang tidak berguna.
Hal-hal yang disebutkan diatas merupakan bukti “betapa pentingnya” penentuan masalah itu, karena komponen atau factor yang melandasi masalah sangat bervariasi dan komplek.

Dalam menentukan masalah ini, tambah Istiyanto, orang sering terkecoh pada “gejala yang tampak” daripada “masalahnya” sendiri.
Tingkat ketidakhadiran para karyawan tinggi, contohnya, sering melakukan demo, mogok kerja dan keluhan yang selalu meningkat adalah merupakan hal-hal yang disampaikan oleh para manajer perusahaan  sebagai suatu “masalah”. Padahal kondisi-kondisi yang disebutkan ini hanyalah “gejala yang merupakan dampak / hasil dari masalah yang sebenarnya”.

C.    SYARAT – SYARAT MASALAH PENELITIAN
Agar supaya suatu masalah dapat diangkat menjadi “suatu masalah penelitian” maka harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a.       Masih baru.
Pertimbangan dalam memilih masalah dalam suatu penelitian adalah: (1) masalah tersebut masih baru dan berkembang di masyarakat, (2)  belum pernah diungkap oleh peneliti lain.
b.      Menarik dan actual.
Masalah tersebut benar-benar terjadi di masyarakat, menjadi masalah masyarakat dan bukan menjadi masalah peneliti. Untuk memastikan apakah masalah tersebut actual, disarankan agar peneliti datang ke lapangan dan berkomunikasi langsung dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat.
c.       Praktis.
Penelitian supaya dilakukan dengan mempertimbangkan tenaga, dana, dan waktu yang dimiliki. Banyak hal yang dapat dilakukan agar penelitian lebih praktis yaitu misalnya dengan memodifikasi jumlah sampel, desain penelitian, dan sebagainya.
d.      Memadai.
Masalah yang dibahas dalam penelitian hendaknya dibatasi ruang lingkupnya, jangan terlalu luas, dan jangan terlalu sempit. Pembatasan ruang lingkup ini harus disesuaikan dengan kemampuan tenaga, dana, dan waktu yang tersedia.
e.       Etis.
Suatu penelitian hendaknya dilakukan tidak bertentangan dengan “etika”. Oleh karena itu sebelum melakukan penelitian, peneliti sebaiknya meminta persetujuan dari responden atau orang yang akan diteliti dan lebih baik lagi jika peneliti meminta persetujuan dari komisi etika medis setempat.

D.    IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN
Di depan diuraikan bahwa sebelum penelitian dimulai maka harus dilakukan studi pendahuluan lebih dahulu. Melalui studi pendahululuan ini peneliti memperoleh unsur-unsur: 
a.       Informasi lapangan.
Kenyataan yang ada di lapangan kadang-kadang tidak sesuai dengan teori, hal ini hanya dapat diketahui jika peneliti berada di lapangan. Selain itu peneliti juga dapat memperoleh informasi mengenai masalah dari observasi langsung, wawancara, pengumpulan data kesehatan pada instansi kesehatan.
Contoh: data kejadian penyakit dari Puskemas, dinas kesehatan dan departemen kesehatan.
b.      Kepustakaan.
Peneliti harus mengikuti publikasi ilmiah yang terbaru. Banyak artikel yang menyebutkan bahwa suatu masalah kesehatan hingga saat  ini belum ditemukan pemecahannya.
c.       Bahan diskusi, seminar, symposium, lokakarya dan sebagainya. Sering pada seminar dibahas tentang masalah yang lagi actual. Hasil seminar tersebut dapat dikembangkan menjadi masalah penelitian.
d.      Pendapat para pakar.
Ada pendapat para pakar yang masih bersifat menduga-duga sehingga dapat dicari landasan teorinya untuk dikembangkan menjadi masalah penelitian.
e.       Sumber Non Ilmiah.

antara  Sugiyono (2008) mengatakan bahwa sumber masalah dapat terjadi antara lain pada hal – hal berikut:
1.      Datang perubahan yang tidak diinginkan,
2.      Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan,
3.      Ada pengaduan dari pihak – pihak tertentu,
4.      Ada kompetisi antara pihak tertentu

E.     RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui pengumpulan data. Namun demikian, terdapat kaitan yang erat antara masalah dengan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah yang ada.
Sugiyono (2011) menyatakan bahwa bentuk rumusan masalah penelitian itu dikembangkan berdasarkan tingkat eksplanasi (level of explanation). Bentuk masalah tersebut, lanjutnya, dapat dikelompokan kedalam bentuk masalah: deskriptif, komparatif ,asosiatif  dan komparatif asosiatif (lihat gambar 2.2).
Sumber: Sugiyono (2011), Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), Bandung: Penerbit Alfabeta
            CV, Cetakan ke 1.
ü  Rumusan masalah deskriptif.
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri (independent), baik satu variabel  maupun lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak membandingkan variabel itu dengan variabel lain. Penelitian ini dinamakan penelitian deskriptif.

Contoh:
Ø  Seberapa baik kinerja Departemen Pendidikan Nasional ?
Ø  Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri Berbadan Hukum ?
Ø  Seberapa tinggi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan Politeknik ?

ü  Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.

Contoh:
Ø  Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta ? (Variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel, yaitu sekolah negeri dan swasta).
Ø  Adakah perbedaan disiplin kerja guru antara sekolah di Kota dan di Desa ? (satu variabel dua sampel).
Ø  Adakah perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar antara murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai Swasta, dan Pedagang ? (dua variabel, tiga sampel).
Ø  Adakah perbedaan kompetensi professional guru dan kepala sekolah antara SD, SMP, dan SLTA ? (satu variabel untuk dua kelompok, pada tiga sampel).

ü  Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan hubungan timbal balik / interaktif / reciprocal.
Ø  Hubungan simetris
Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausal maupun interaktif.
Contoh:
  • Adakah hubungan antara jumlah minuman es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah ? (Variabel pertama adalah penjualan es dan kedua adalah kejahatan).
  • Adakah hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak ?
  • Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah ?

Contoh judul penelitiannya adalah:
  • Hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah.
  • Hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak.
  • Hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah.

Ø  Hubungan kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi di sini ada variabel independent (yang mempengaruhi) dan dependen (yang dipengaruhi).
Contoh rumusan masalah:
  • Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak ? (pendidikan orang tua, variable independent, dan prestasi belajar, variabel dependen).
  • Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala SMK terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan ? (kepemimpinan, variabel independent, kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan, variabel dependent).
  • Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan, dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah ? (kurikulum, media pendidikan, kualitas guru adalah variabel independent sementara kualitas SDM adalah variable dependent).

Contoh judul penelitiannya:
  • Pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak di SD Kabupaten Gemah Ripah.
  • Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan pada SMK di Kota Galuh.
  • Pengaruh kurikulum, media pendidikan, dan kualitas guru terhadap kualitas lulusan dari SMK Angkasa.

Ø  Hubungan timbal balik / interaktif / reciprocal
Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen.
Contoh:
  • Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di Kecamatan A. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi, tetapi dapat juga dikatakan prestasi dapat mempengaruhi motivasi.
  • Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan.


ü  Rumusan Masalah Komparatif-Asosiatif.
Rumusan masalah komparatif-asosiatif adalah rumusan masalah yang menanyakan perbandingan korelasi antara dua variable atau lebih pada sampel atau populasi yang berbeda.
Contoh:
  • Adakah perbedaan korelasi kualitas pelayanan dengan nilai penjualan antara Toko A dan Toko B?
  • Adakah perbedaan pengaruh kepemimpinan terhadap disiplin pegawai antara Lembaga Pemerintah dan Swasta?
A.    VARIABEL PENELITIAN
  1. Pengertian
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Sehubungan dengan ini, Sugiyono (2008) mengatakan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

  1. Macam – macam variabel
Berdasarkan hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya, maka dapat dibedakan menjadi:

  1. Variabel independen (bebas)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).

  1. Variabel Dependen (terikat)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena ada variabel bebas.
Gambar 02 - 2: Contoh hubungan variabel bebas dan terikat

  1. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi ( memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel bebas dan terikat. Variabel ini juga disebut variabel bebas kedua.
Contoh:
Hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila peranan guru dalam menciptakan iklim belajar sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila peranan guru kurang baik. Lihat gambar 02 - 3.
Gambar 02 - 3: Contoh hubungan variabel bebas, moderator, dan terikat.
Variabel intervening  
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan terikat menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
Contoh:
Tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap harapan hidup (panjang pendeknya umur). Dalam hal ini ada variabel antara, yaitu gaya hidup seseorang. Antara variabel penghasilan dengan gaya hidup, terdapat variabel moderator, yaitu budaya lingkungan tempat tinggal. Lihat gambar 02 - 4.
  1. Variabel control
Variabel control adalah variable yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variable bebas terhadap variable terikat tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti. Variabel control sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Contoh:
Pengaruh jenis pendidikan terhadap ketrampilan mengetik. Variabel bebas adalah pendidikan (SMU dan SMK). Variabel kontrol yang ditetapkan sama misalnya: naskah yang diketik sama, mesin tik yang digunakan sama, ruang tempat mengetik sama. Dengan adanya variabel kontrol tersebut, maka besarnya pengaruh jenis pendidikan terhadap ketrampilan mengetik dapat diketahui lebih pasti.
Gambar 02 - 5: Contoh hubungan variabel bebas, control, dan   terikat.

E.     PARADIGMA PENELITIAN

Paradigma penelitian adalah pola pikir yang menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.

Bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif  tersebut  disajikan dalam uraian sebagai berikut:

  1. Paradigma Sederhana
Paradigma penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Lihat gambar 02 - 6.



Gambar 02 – 6 Paradigma sederhana
Berdasarkan paradigma tersebut dapat ditentukan:
  1. Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua, dan asosiatif ada satu yaitu:
1)      Rumusan masalah deskriptif (dua)
a.       Bagaimana X (kualitas guru)
b.      Bagaimana Y (prestasi belajar murid)
2)      Rumusan masalah asosiatif / hubungan (satu)
Bagaimana pengaruh kualitas guru terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan.

  1. Teori yang digunakan ada dua, yaitu: (1) teori tentang media pendidikan dan (2) teori tentang prestasi belajar.

  1. Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam hipotesis deskriptif  dan sebuah hipotesis asosiatif.

1)      Contoh dua hipotesis deskriptif (jarang dirumuskan)
a.       Kualitas media yang digunakan  oleh lembaga pendidikan tersebut telah mencapai 70 % baik.
b.      Prestasi belajar siswa lembaga pendidikan tersebut telah mencapai 99 % dari yang diharapkan.
2)      Hipotesis asosiatif:
Ada hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas media pendidikan  dengan prestasi belajar murid. Hal ini berarti bila kualitas media pendidikan ditingkatkan, maka prestasi belajar murid akan meningkat pada gradasi yang tinggi. Kata signifikan digunakan bila hasil uji hipotesis akan digeneralisir ke populasi dimana sample tersebut diambil.
  1. Teknik analisa data.
Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis tersebut, maka dapat ditentukan teknik statistik yang digunakan untuk analisis data dan menguji hipotesis.
1)      Untuk dua hipotesis deskriptif, bila datanya berbentuk interval dan ratio, maka pengujian hipotesis menggunakan  t-test one sample.
2)      Untuk hipotesis asosiatif, bila data kedua variabel berbentuk interval dan ratio, maka menggunakan  teknik Statistik Korelasi Product Moment.

  1. Paradigma Sederhana Berurutan
Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya masih sederhana. Lihat gambar 02 – 7.
Contoh:
X1 = kualitas input
X2 = kualitas proses
X3 = kualitas output

Keterangan:
Paradigma sederhana berurutan menunjukkan hubungan antara satu variabel bebas dengan satu variabel terikat secara berurutan. Untuk mencari hubungan antar variabel (X1 dengan X2; X2 dengan X3; X3 dengan Y) tersebut digunakan teknik korelasi sederhana. Naik turun harga Y dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y atas X3, dengan persamaan Y = a + bX3. Berdasarkan contoh 1 tersebut dapat dihitung jumlah rumusan masalah deskriptif dan asosiatif.

Gambar 02 – 7  Paradigma sederhana berurutan

  1. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen dan Satu Dependen
Paradigma ini terdiri atas dua variabel independen dan satu variabel dependen. Dalam paradigma ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif, dan 4 rumusan masalah asosiatif (3 korelasi sederhana dan 1 korelasi ganda). Lihat gambar 02 – 8.
Contoh:
X1 = Kompetensi guru,          R1 = korelasi sederhana antara X1 dengan Y           
X2 = Lingkungan sekolah,      R2 = korelasi sederhana antara X2 dengan Y
Y   = Prestasi belajar murid,    R3 = korelasi sederhana antara X1 dengan X2
R   = Korelasi ganda X1 dan X2 dengan Y.
Keterangan:
X1 dan X2 adalah variabel independen(bebas).
Y adalah variabel dependen (terikat).
Untuk mencari hubungan X1 dengan Y, X2 dengan Y, dan X1 dengan X2 menggunakan teknik korelasi sederhana.
Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama – sama terhadap Y menggunakan teknik korelasi ganda.
            Gambar 02 – 8 Paradigma ganda dengan dua variabel independen dan satu
                                     Dependen.
  1. Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen dan Satu Depanden
Paradigma ini terdiri atas tiga variabel independen (X1, X2, dan X3) dan satu variabel dependen (Y). Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan rumusan masalah asosiatif untuk yang sederhana ada 6 dan yang ganda minimal 1. Lihat gambar 02 – 9.
Misal:
X1 = kualitas mesin produksi;                        X3 = etos belajar;
X2 = pengalaman kerja;                                  Y   = produktivitas kerja.

Keterangan:
X1, X2, X3 = variabel independen (bebas)
Y                 = variabel dependen (terikat)

Untuk mencari besarnya hubungan antara X1 dengan Y; X2 dengan Y; X3 dengan Y; X1 dengan X2; X2 dengan X3; dan X1 dengan X3 dapat menggunakan korelasi sederhana.
Untuk mencari besarnya hubungan antar X1 secara bersama – sama dengan X2 dan X3 terhadap Y digunakan korelasi ganda. Regresi sederhana, dan ganda  serta korelasi parsial dapat digunakan untuk analisis dalam paradigma ini.

Gambar 02 – 9 Paradigma ganda dengan tiga variabel independen dan satu
                                     Dependen.

Paradigma Ganda dengan satu variabel independen dan dua dependen
Misal:
            X   = tingkat pendidikan;
            Y1 = karir di tempat kerja;
            Y2 = disiplin kerja.
            Keterangan:
Untuk mencari besarnya hubungan antara X dengan Y1, dan X dengan Y2 digunakan teknik korelasi sederhana. Demikian juga untuk Y1 dengan Y2. Analisis regresi juga dapat dilakukan disini.
            Gambar 02 – 10 Paradigma ganda dengan satu variabel independen dan dua
                                       dependen.

  1. Paradigma ganda dengan Dua Variabel Independen dan Dua Dependen
Paradigma ini terdiri atas dua variabel independen (X1, X2) dan dua dependen (Y1, Y2). Terdapat 4 rumusan masalah deskriptif, dan 6 rumusan masalah hubungan sederhana. Korelasi dan regresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel secara simultan.
 
Misal:
X1 = keindahan kampus;                                Y1 = jumlah pendaftar
X2 = pelayanan sekolah;                                 Y2 = kepuasan pelayanan

Keterangan:
X1 dan X2 = variabel independen
Y1 dan Y2 = variabel dependen
Hubungan antar variabel r1, r2, r3, r4, r5, dan r6 dapat dianalisis dengan teknik korelasi sederhana. Hubungan antara X1 bersama – sama dengan X2 terhadap Y1 dan X1 & X2 bersama – sama terhadap Y2 dapat dianalisis dengan korelasi ganda. Analisis regresi sederhana maupun ganda dapat juga digunakan untuk memprediksi jumlah pendaftar dan kepuasan pelanggan sekolah tersebut.

            Gambar 02 – 11  Paradigma ganda dengan dua variabel independen dan dua
                            Dependen.

Paradigma Jalur
          
Misal:
X1 = Status social ekonomi;               X2 = IQ;
X3 = Motivasi berprestasi;                  Y   = Prestasi belajar (achievement)
            (n ach)

Keterangan:
Paradigma jalur.
Teknik analisis statistik yang digunakan dinamakan path analysis (analisis jalur).
Analisis menggunakan korelasi dan regresi sehingga dapat diketahui sampai pada variabel dependen terakhir, harus lewat jalur langsung, atau melalui variabel intervening.
Dalam paradigma ini terdapat 4 rumusan masalah deskriptif , dan 6 rumusan masalah hubungan.

            Gambar 02 – 12  Paradigma Jalur


Paradigma ini dinamakan paradigma jalur, karena  terdapat variabel yang berfungsi sebagai jalur antara (X3). Variabel antara ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah untuk mencapai sasaran akhir harus melewati variabel antara itu atau langsung ke sasaran akhir.

Gambar 02 – 12 menunjukkan bahwa siswa yang berasal dari status social ekonomi tertentu X1, tidak dapat langsung mencapai prestasi belajar yang tinggi Y (korelasi 0,33) tetapi harus melalui peningkatan motif berprestasi X3 (r = 0,41) dan baru dapat mencapai prestasi Y (r = 0,50). Tetapi, bila siswa mempunyai IQ yang tinggi (X2) maka mereka dapat langsung mencapai prestasi Y dengan r = 0,57. Contoh tersebut diberikan oleh Kerlinger.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar