Rabu, 21 November 2012

contoh perencanaan irigasi

PERENCANAAN IRIGASI DAERAH KALI BOMO BLAMBANGAN
A.  Menentukan Letak Bendung Dan Pembagian Daerah Atas Petak
Untuk menentukan letak bendung kita harus bisa mengambil letak yang sebaik-baiknya (Strategis), Supaya  dalam penentuan itu kita mendapatkan luas yang semaksimal mungkin dan pula dalam perencanaannya harus mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan pokok dengan Tofografi atau keadaan alam sekitarnya, misalkan daerah pegunungan dataran, biaya yang akan dikeluarkan dan faktor lain yang mungkin ada hubungannya dengan daerah yang akan dibangun bendung tersebut.
            Adapun dalam perencanaan ini letak bendung berada disungai Bomo Blambangan dengan ketinggian tanah ± 64,43 meter dari permukaan laut.
            Dalam perencanaan ini diharapkan apabila letak bendung direncanakan ditempat tiidak terlalu banyak bangunan-bangunan yang betul-betul dibuat, sehingga dapat mengirit biaya yang ada.
Pada prinsipnya kita harus merencanakan bendung yang betul-betul mempunyai kedudukan pada tempat yang cukup strategis, agar fungsi dari pada bendung ini lebih efisien sesuai dengan kebutuhan perencanaan yang diinginkan.

            Pembagian petak-petak direncanakan pada peta pengaliran Kali Bomo dari peta yang mempunyai skala 1 : 25000, dimana mempunyai kemiringan rata-rata, sehingga bisa bahwa daerah ini merupakan daerah dataran.
            Untuk itu diambil luas setiap petak biasa antara 60-80 ha dan max. 100 ha,tetapi secara umum yang direncanakan oleh Dirjen Irigasi tidak lebih dari 80 hektar.
            Dari petak-petak yang sudah dibuat itu untuk membedakan sawah mana yang menerima air dari saluran sekunder atau dari saluran induk langsung, maka diberi warna yang jelas. Petak-petak sawah  yang mendapatkan air dari satu serokan sekunder diberi warna yang sama, begiru pula petak-petak yang mendapat air dari serokan induk langsung.
            Unutk mempermudah pelaksanaan pembagian air dan pengontrolan dari masing-masing petak diberi nama yang singkat tapi jelas, seperti yang diterangkan  pada bagian muka tadi.
Adapun pembagian batas-batas petak dapat digunakan jalan raya yang telah ada, jalan kereta api, sungai, Kampung yang dilewati dsb.
B. Penentuan Besar Kapasitas Saluran
            Untuk pengairan daerah Kali Bomo Blambangan ini digunakan lengkung tegelnya (c) sama dengan l (satu) sasuai dengan kriteria perencanaan irigasi yang dipakai di Indonesia.
            Untuk kebutuhan air normal (a) diambil 1,5 lt/dt/ha dengan demikian kapasitass saluran dapat di rumuskan, :
Q =  a . C . A  à  dimana :          Q = debit kapasitas saluran (m³/dt)
                                                    a = Kebutuhan air normal (lt/dt/ha)
                                                    A = Luas daerah yang diari (ha)
                                                    C = Koefisien lengkung tegal = 1
1). Pehitungan  saluran tersier :
1. Sal Tersier Kd3 ka
a = 1,5 lt/dt/ha
c = 1,164
A = 86,28 ha
Maka :             Q = a . c . A
                            = 1,5 . 1,164 . 86,28 = 150,64 lt/dt = 0,151 m³/dt
C. Penentuan Dimensi Tiap Saluran
            Untuk perhitungan dimensi saluran dipergunakan dasar-dasar perhitungan yang dipakai oleh Direktorat Irigasi.
Cara I :
            Untuk cara pertama kita sudah menentukan perbandingan b/h kemiringan talud, kecepatan rencana, cara ini disebut cara “Strickler” dengan menggunakan rumus dan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Q = F x V
2. F = ( b + t h ) h
3. O = b + 2 h √ ( 1 + t²)
4. R = F / O
5. i = V / ( K . R ^ (2/3))
Dimana :
Q = Banyaknya air tiap detik                                             ( m³ / dt )
F = Luas penampang basah                                               ( m² )
V = kecepatan air dalam saluran                                        ( m / dt )
h = tinggi muka air                                                             ( m )
b = lebar dasar saluran                                                       ( m )
t = kemiringan talud                                                           -
O = Keliling basah                                                             ( m )
R = jari-jari hidrolis                                                           ( m )
i = kemiringan saluran
            Cara “strickler” ini dipergunakan untuk mencari dimensi saluran tersier dan saluran sekunder.
Cara II
            Untuk cara kedua ini kita harus membuat atau menentukan kemiringan dasar saluran terlebih dahulu ( a-line ) dengan langkah :
-          Tentukan panjang saluran induk
-          Kemiringan lereng dari bangunan satu ke bangunan berikutnya untuk setiap salurannya ( I awal )
-          Dari beberapa I awal tersebut di plot ke dalam grafik “Bagan perencanaan Saluran” bersama masing-masing Q-nya.
-          Tarik garis a-line dari beberapa titik tersebut.
-          Untuk kemudian diperoleh harga I √ R dan I
Langkah-langkah perhitungannya :
1. Cari R, dari rumus I √  R tadi.
2. cari V, V = K . R ^(2/3) . I ^(1/2)
3. A = Q / V
4. Tentukan n, dan m (talud) dar tabel.
5. A = ( m + n ) h²
6. Diperoleh h awal dari rumus 3 dan 5
7. Masukan h = ho kedalam rumus :
    Vo = K ho . ( n + m ) / ( n + 2 m² + 1 ) ^ (2/3) .i ^ (1/2)
8. Luas basah : Ao = Q / Vo
9. h1 = Ao / ( m + n )
10. check, apakah h1 – ho < 0,005 atau = 0,005
     Bila h1  - ho < 0,005 à h1 sebagai h rencana
     Bila h1 – ho > 0,005  à h1 sebagai ho untuk perhitungan selanjutnya. ( diulang terus menerus   sampai diperoleh 0,005 )
Cara kedua ini dipergunakan untuk menetukan dimensi saluran Primer atau saluran induk.
C. I Saluran tersier dan saluran sekunder
1. Saluran tersier B1Ki1
Q Sal = 0,154 m³ / dt
V = 0,301 m / dt
b / h = 1
Kemiringan talud = 1 : 1
F = Q / V = 0,154 / 0,301 = 0,5116 m²
F = ( b + t h ) . h = ( h  + 1 h ) = 2 h² à h² = 0,5116 / 2 = 0,2558
h = √ 0,2558 =  0,5058 m ~ 0,50 m
b = h à 0,50 m
F = 2 h ² = 2 ( 0,50 ) ² = 0,5 m²
V = Q / F = 0,154 / 0,5 = 0,308 m/dt
O = b + 2b √ ( 1 + t² ) à 0,50 + 2 ( 0,50 ) √ ( 1 + 1² ) = 0,50 + 1 √ 2 = 1,9142
R = F / O = 0,5 / 1,9142 = 0,261
i = ( V / (K x R ^ (2/3))² = ( 0,308 / (40 . 0,261 ^ (2/3))² = 0,000355
Kesimpulan :
Q = 0,154 m³/dt                    h = 0,50 m          V =0,308 m/dt                        t= 1 : 1
b = 0,50 m                            i = 0,000355
D. Perhitungan pintu Romijin :
            Sesuai dengan kriteria perencanaan Irigasi (Kp–04) bagiana bangunan, lebar standar untuk alat pintu Romijin adalah 0,50 , 0,75 , 1,00 , 1,25 dan 1,50 m.
            Untuk harga-harga lebar standar ini semua pintu, kecuali satu tipe, mempunyai panjang standar mercu 0,5 m, untuk mercu horizontal dan jari-jari 0,10 m, untuk meja berujung bulat satu lagi di tambahkan agar sesuai dengan bangunan sadap tersier yang debitnya kurang dari 1 liter/det. Lebar pintu ini 0,50 tepi mercu horizontalnya 0,33 m dan jari-jari 0,07 untuk ujungnya.
            Tabel besaran debit yang di anjurkan untuk alat ukur Romijn standar.



            Untuk daerah irigasi Kali Bomo pintu rominjinnya digunakan lebar 0,50 m karena q rata-rata tidak lebih dari 0,22 m³/dt (saluran tersiernya)
Perhitungan h dan z Kd3 ka
Q = 0,151 m³/dt                       b = 0,5 m
Q = 1,71 . b . h ^(3/2)
h^(3/2) = Q : 1,71 . b
h^(3/2) = 0,177 à h = 0,315
z = 1/3 h à z = 1/3 x 0,315 = 0,105
P = 0,21 + h = 0,21 + 0,315 = 0,525.
E. Penentuan Tinggi Muka Air Pada Tiap-Tiap Saluran
1. Saluran Tersier
            Tinggi muka air pada saluran tersier ditentukan oleh letak sawah tertinggi yang akan diairi pada petak tersier. Tinggi air yang tergenang disawah di ambil 0,10 meter ditambah  dengan panjang saluran kali kemiringan.
            Contoh perhitungan
a). Saluran Tersier KP3 ka
- letak sawah tertinggi  :+5
- Jarak dari pintu          : 0
- Tinggi yang tergenang            : 0,10 meter
- Kemiringan                : 0,342̄³
            Maka tinggi muka air sebelah hilir pintu pengambilan adalah :
= A + 0,10 + l . i
= 5 + 0,10 + 0 . 0,342̄³ = 5,10 m
            Sedangkan tinggi muka air sebelah udik ditambah lagi dengan z (diambil 0,11) jadi :
5,10 + 0,11 = 15,21 m
b). Saluran Sekunder
            menetukan tinggi muka air pada saluran sekunder yaitu tergantung dari pada tinggi muka air saluran tersier yang dialiri oleh saluran tersebut. Tinggi muka air di hilir saluran adalah tinggi muka air yang tertinggi dari slauran tersier yang diambil dari saluran sekunder tersebut.
            Tinggi muka air di udik saluran adalah tinggi muka air di hilir ditambah dengan panjang salurran kali kemiringan,
Contoh Perhitungan :
KD3 ka                        = + 5,21 m
KD3 ki             = + 5,21 m
Ambil yang tertinggi 5,21 m
B + L i
5,21 + 1200 . 0,262 . 10̄³
5,21 + 0,314
5,524
Maka air di udik :
5,524 + 0,10 = 0,564
            Sebagai rekapitulasi sawah tertinggi dan panjang saluran dapat di lihat pada tabel 2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar